Batu Bara – Cita-cita Presiden Prabowo Subianto mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta memiliki kemampuan literasi yang kuat. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, muncul tantangan serius berupa rendahnya minat membaca dan meningkatnya ketergantungan anak terhadap gadget.
Kondisi ini dinilai dapat mengancam kualitas generasi penerus apabila tidak mendapat perhatian serius dari keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Pengawas DPD Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Batu Bara, Radit Ghali Sudewo menilai bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia pada 2045 hanya akan menjadi peluang apabila generasi muda dibekali kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta budaya membaca yang baik. Sebaliknya, bonus demografi berpotensi berubah menjadi bencana demografi apabila anak-anak tumbuh dengan ketergantungan terhadap dunia digital tanpa pengawasan yang memadai.
Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor kemampuan membaca pelajar Indonesia turun menjadi 359 poin, terendah sejak tahun 2000. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi membaca minimum (Level 2), jauh di bawah rata-rata negara yang mencapai 74 persen.
Sementara itu, sekitar 62 persen siswa Indonesia menghabiskan lebih dari satu jam per hari menggunakan perangkat digital untuk aktivitas hiburan di luar sekolah, dan sekitar 25 persen mengaku terganggu oleh penggunaan perangkat digital saat proses belajar berlangsung.
Selain itu, kondisi pendidikan masyarakat di Kabupaten Batu Bara juga menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data kependudukan per akhir 2024, sekitar 66,83 ribu jiwa atau 14,07 persen penduduk Kabupaten Batu Bara merupakan lulusan SMP.
Sementara rincian tingkat pendidikan masyarakat menunjukkan sebanyak 27,76 persen tidak atau belum pernah sekolah, 12,83 persen belum tamat SD, 23,00 persen tamat SD, 14,07 persen tamat SMP, 18,57 persen tamat SMA, 1,16 persen lulusan Diploma (D1-D3), dan hanya 2,60 persen yang menamatkan pendidikan hingga jenjang sarjana (S1-S3).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas literasi dan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar yang harus dilakukan secara bersama-sama.
Menurut Pengawas DPD LPAI Kabupaten Batu Bara, perkembangan teknologi dan digitalisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Anak-anak harus diperkenalkan dengan teknologi agar tidak tertinggal perkembangan zaman dan mampu menjadi bagian dari generasi yang akan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Namun, orang tua juga harus menyadari bahwa tidak semua yang terdapat di dalam gadget memiliki nilai positif. Selain menurunnya budaya membaca, berbagai ancaman seperti konten negatif hingga judi online kini mulai menyasar anak-anak.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan sekitar 440 ribu anak usia 10 hingga 20 tahun di Indonesia telah terindikasi terlibat dalam aktivitas judi online. Bahkan, sekitar dua persen di antaranya merupakan anak di bawah usia 10 tahun.
Fakta tersebut menjadi alarm bahwa ruang digital yang seharusnya menjadi sarana belajar dapat berubah menjadi ancaman apabila anak-anak menggunakan gadget tanpa pengawasan dan pendampingan dari orang tua.
Radit Ghali Sudewo menegaskan bahwa teknologi bukanlah musuh. Namun, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas, bukan justru menjadi penguasa dalam kehidupan anak-anak. Menurutnya, rumah merupakan sekolah pertama dan orang tua adalah filter utama dalam menentukan arah tumbuh kembang anak di era digital.
Ia menyampaikan bahwa program besar Presiden Prabowo menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kita membutuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, memiliki budaya membaca, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang mahir memainkan layar, tetapi lemah dalam literasi dan kemampuan berpikir kritis. Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan generasi yang kaya informasi, tetapi juga generasi yang kaya ilmu pengetahuan dan karakter,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan seluruh orang tua di Kabupaten Batu Bara agar tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada gadget. Menurutnya, di era kecerdasan buatan dan digitalisasi saat ini, orang tua tidak cukup hanya menjadi penyedia fasilitas, tetapi harus menjadi pendamping dan pengawas utama bagi anak.
Tak lupa juga ia mengajak seluruh orang tua di Kabupaten Batu Bara untuk menjadi filter pertama bagi anak-anak kita. Berikan pengawasan yang baik, kenali aplikasi yang mereka gunakan, batasi penggunaan gadget, dan arahkan mereka pada konten yang bermanfaat serta edukatif.
“Kita tidak boleh anti terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh lengah terhadap dampak negatifnya. Anak-anak Batu Bara hari ini adalah calon pemimpin Indonesia pada 2045. Karena itu, jangan biarkan mereka tumbuh hanya kaya informasi, tetapi miskin literasi dan karakter.
Masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dipersiapkan dari keluarga hari ini,” tegasnya.
Menurutnya, apabila keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat mampu berjalan bersama dalam membangun budaya literasi dan penggunaan teknologi yang sehat, maka Kabupaten Batu Bara akan mampu melahirkan generasi yang unggul, berakhlak, melek teknologi, serta siap bersaing dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
