Pekerjaan Hotmix Jalan Sutomo, S. Parman dan Gereja Dikerjakan Asal Jadi. Walikota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim Tidak Peduli. Diminta KPK, BPK dan Kejaksaan Turun kelapangan Dan Periksa Pekerjaan.
Tanjungbalai -nasional tribun com
Pekerjaan Perbaikan jalan yang dilakukan dengan sistem pelaksanaan lapisan Aspal Hotmix di jalan Sutomo, S. Parman dan jalan gereja Kota Tanjungbalai dikerjakan asal jadi dan diduga ada pengelembungan anggaran ( Mark Up ) yang di biayai dari Dana APBD TA 2026 Kota Tanjungbalai. Rabu, 19 Agustus 2026.
Pekerjaan pengaspalan dengan memakai sistem lapisan dengan aspal hotmix ini dilakukan oleh dinas PUTR Kota Tanjungbalai yang memberikan pekerjaan tersebut kepada pihak ketiga yang diambil dari luar daerah, dengan biaya yang signifikan.
Pekerjaan yang dilanjutkan dengan pekerjaan drainase tersebut yang tertera dalam plank pekerjaan sangat aneh dan tidak rasional, karna hotmix yang dikerjakan dengan cepat ibarat pekerjaan tukang sulap, hari ini dilakukan besok lusa sudah selesai tanpa menunggu jadwal dan aturan dan proses yang benar karna pekerjaan tersebut memakai time scatdulle dan perhitungan logika kontruksi jalan.
Kami menduga pekerjaan ini memang sengaja dilakukan agar cepat selesai tanpa waktu perencanaan yang sebenarnya, demikian menurut salah satu tokoh pemuda yang enggan menyebutkan namanya.
Dari awal saya sudah memantau pekerjaan ini, dan saya temukan disana sini banyak penyimpangan dan saya berharap walikota Mahyaruddin Salim dan ketua DPRD Kota Tanjungbalai mau turun kelapangan melihat saat pekerjaan dilaksanakan. Tapi mereka tidak perduli seolah berkata mungkin sudah ada dinas terkait yang punya tupoksi.
Menurut Undang- Undang No 2 Tahun 2027 tentang Kontruksi. Semua pihak harus mengawasi pekerjaan kontruksi terutama orang – orang yang bertanggung jawab tidak terkecuali walikota dan ketua DPRD Kota Tanjungbalai, disaat pelaksana pekerjaan kontruksi sedang berjalan.
Undang – Undang No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, kami mengharapkan KPK, BPK dan Kejaksaan mau turun kelapangan memantau langsung pelaksanaan yang diduga sarat kepentingan dan Mark up, sehingga pekerjaan dilakukan asal jadi dan tidak mengacu kepada proses yang normatif atau legal.
Saya berharap terutama kepada walikota tanjung balai Mahyaruddin Salim jangan hanya banyak bicara disana sini seolah semua pekerjaan sudah dilaksanakan dengan benar. Semboyan yang disebutkan Tanjungbalai emas, bisa jadi hanya paradigma dan mengada – Ngada.
Bagaimna kota Tanjung alai mau bagus kalau dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksinya saja, walikota tidak perduli. Dan jelas sampai saat ini setiap ada hujan turun kota Tanjungbalai terendam air diibaratkan lautan air atau samutra yang ada ditengah kota disumatera Utara ini.
Pewarta :(i..Anton)
Media nasional tribun.com
